Menata Ikhlas Meraih Bahagia

Menata Ikhlas Meraih Bahagia

Willy Ahmadi - Sebuah renungan bermanfaat yang bisa anda ambil hikmahnya dari tulisan ini. ALHAMDULILLAH, segala puji hanya milik Allah yang Maha menatap dan mengetahui segala tindak-tanduk ciptaan-Nya. Ya Allah, cabutlah dari diri kami segala ketakaburan, sehalus apa pun dan golongkan kami menjadi orang yang tawadhu, benar-benar ikhlas karena Engkau. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw.

Setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang bahagia, menikmati hidup ini tanpa merasa terbebani oleh berbagai masalah. Dan hal ini hanya akan dirasakan oleh orang yang sungguh-sungguh berupaya ikhlas, menjaga setiap amalnya, baik amal ibadah maupun amal shalih dalam kehidupan bermasyarakatnya, hanya bagi Allah. Tidak terbersit keinginan untuk dipuji, dihargai, dihormati makhluk. Ringan saja ketika melakukan sesuatu, yang penting baginya adalah ridha dan berkah Allah.


Ia tahu bahwa tugasnya di dunia ini hanya dua. Pertama, luruskan niat selalu, hanya demi meraih cinta Allah, lalu selanjutnya ia harus menyempurnakan ikhtiar agar hasil yang diharapkan betul-betul optimal, terbaik yang dapat dipersembahkannya. Sehingga ia tidak peduli dengan penghargaan orang lain.


Ia tetap bersemangat beramal shalih, baginya yang penting apa yang dilakukannya mendapat ridha Allah. Rezeki baginya adalah ketika ia mampu berbuat meluruskan niat dan beramal dengan amal terbaik.


Untuk mencapai tingkatan ikhlas tertinggi, yaitu meraih ridha Allah, Menurut Imam Ali RA ada beberapa level ikhlas, antara lain; pertama, ikhlasnya seseorang untuk meraih kebahagiaan duniawi. Ketika berdoa pun, ia berharap keinginan duniawi semata. Walaupun ini tingkatan terendah, namun lebih baik karena ia hanya meminta kepada Allah saja.


Lalu, kedua, ikhlasnya seorang pedagang, ia berusaha ikhlas namun dengan menghitung-hitung pahala terlebih dahulu. Jika suatu amal banyak mendatangkan pahala, pasti ia bersemangat mengerjakannya. Berharap amal tersebut dapat menghapuskan dosa serta menguntungkan dunianya. Ketiga, ikhlasnya seorang hamba sahaya, ia takut sekali dengan ancaman Allah, sehingga ia berusaha ikhlas dalam berbuat, hanya demi Allah agar Allah tidak murka kepadanya.


Ke-empat, ikhlasnya orang yang berharap surga, balasan baik dari Allah, sehingga amal yang dikerjakannya betul-betul diperuntukkan sebagai bekal hidup diakhirat kelak, agar ia meraih surga, balasan tertinggi Allah.


Tingkat terakhir, kelima, ikhlas tingkat tertinggi, ia pasrah dengan ketentuan Allah. Baginya ia berbuat terbaik hanya demi keridhaan dan berharap cinta Allah. Ia hanya berkehendak dapat berjumpa Allah kelak, selain itu terserah Allah. Ia tidak begitu peduli dengan balasan Allah. Cukup baginya cinta dan persuaan dengan Allah nanti. Subhanaallah, mudah-mudahan suatu saat kita dapat meraih tingkatan ikhlas tertinggi ini. Aamiin.


Untuk menjadi seorang yang ikhlas pasti memerlukan latihan (riyadhah), berat memang pada awalnya, namun jika sungguh-sungguh berupaya, pasti akan berbuah keikhlasan yang tiada bandingnya dengan kehidupan dunia ini. Cobalah mulai berusaha melupakan setiap amal yang kita lakukan, seakan-akan kita tidak pernah melakukannya. Dan jangan membeda-bedakan amal besar atau amal kecil, semua amal sama saja, upayakan berbuat terbaik dalam amal apapun juga.


Lupakan pula penghargaan atau celaan orang lain, upayakan bersikap biasa-biasa saja dengan semua yang telah kita lakukan. Serta jangan berharap balasan berbentuk pujian, materi atau penghargaan dari orang lain, bisa jadi balasan amal itu berupa pahala atau ridha Allah, bukankah hal itu lebih baik.


Marilah kita senantiasa menata keikhlasan hati, dengan mulai mencoba berlatih dalam setiap kesempatan amal. Dengan begitu, mudah-mudahan suatu saat bahagia akan teraih, dunia akhirat. Aamiin.

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
Inilah.com